Namun, seperti diberitakan AFP, pada Juli 2014 ISIS yang saat itu menduduki Mosul menghancurkan segala peradaban budaya yang ada. Masjid dan tempat perlindungan bagi Muslim Syiah seperti tak lagi diizinkan untuk berdiri.
Padahal mereka mengandung budaya yang kaya. Bukan hanya itu, mereka juga sudah berdiri selama berabad-abad di sana. Sayang, itu semua tak ada artinya melawan peluru dan bom.
Kelompok militan yang punya bendera ikonis berwarna hitam itu juga membakar ratusan buku langka dan manuskrip yang ada di museum-museum yang tersebar di Mosul. Patung-patung yang menjadi simbol kekayaan seni, dihancurkan begitu saja.
Makam Nabi Yunus yang diakui baik oleh umat Muslim maupun Kristen, pun diledakkan. Begitu pula makam Syith atau Seth, nabi yang juga dikenal sebagai anak ke-tiga Adam dan Hawa. Seth juga merupakan adik bungsu Habil dan Qabil.
Simbol Kota Tua Mosul, atau The Old City of Mosul, yakni Masjid Nuri dan Menara Hadba juga tak bertahan. ISIS benar-benar menggempur habis-habisan akar budaya di sana.
Mosul menjadi bagian dari Irak ketika negara itu diciptakan dari aku Kekaisaran Ottoman pada 1920-an. Namun Irak, salah satu negeri kaya minyak, lalu dijatuhkan oleh Inggris pada 1918. Di bawah mandat Perancis, negara itu dikaitkan dengan Suriah.
ISIS menduduki Mosul bukan hanya karena sejarah panjang tanah itu dan posisinya yang layak untuk benteng perlindungan. Mereka juga menjadikannya sebagai sumber utama pendanaan aksi yang mereka sebut jihad. Kini, Mosul kembali direbut dari tangan ISIS.
Semoga saja mereka juga bisa kembali mengembalikan peradaban budaya yang luluh lantak. (rsa)
No comments:
Post a Comment