REUTERS/Andreea Campeanu , CNN Indonesia
Kamis, 13/07/2017 11:18 WIB
Artikel belum tersedia
Bagaimana masyarakat Sudan Selatan tidak lelah, oleh konflik yang timbul dari perang. (REUTERS/Andreea Campeanu) 
Sudan Selatan baru memperoleh kemerdekaannya dari Sudan pada 2011, sehingga bisa dibilang sebagai negara berdaulat termuda. Tapi mereka kembali perang pada 2013. (REUTERS/Andreea Campeanu) 
Presiden Salva Kiir memecat deputinya, Riek Machar, membuat senjata kembali terangkat. (REUTERS/Andreea Campeanu) 
Pendukung kedua belah pihak yang tinggal di luar Sudan, membawa perang itu ke internet. Makian dilontarkan, ujaran kebencian saling dilemparkan. Konflik pun pecah di jalanan. (REUTERS/Andreea Campeanu) 
Anak muda yang akhirnya bergerak lewat kelompok yang dinamai ‘Ana Taban.’ Saya Lelah, demikian artinya dari bahasa Arab. Isinya musisi, perancang busana, penyair, dan seniman. (REUTERS/Andreea) 
Profesi mereka boleh beda, tapi yang mereka inginkan sama: perdamaian di Tanah Sudan. (REUTERS/Andreea Campeanu) 
Kelompok itu digagas sekitar setahun lalu dan rutin menggelar pertunjukan luar ruang. (REUTERS/Andreea Campeanu) 
Melalui teater, pantomim, musik, atau pertunjukan-pertunjukan lain di Juba dan kota-kota lain, mereka mengedukasi publik soal pentingnya perdamaian dan tak berartinya perang. (REUTERS/Andreea Campeanu) 
Panggung mereka adalah suara yang mendorong kaum muda mengubah negara mereka. (REUTERS/Andreea Campeanu) 
Ana Taban bahkan bersuara lewat pesan-pesan sosial yang disampaikan lewat mural. Dinding-dinding yang bernada positif kini bisa dilihat di sekeliling ibu kota Juba. (REUTERS/Andreea Campeanu) 
Quantity :
Add to Cart
No comments:
Post a Comment