Manusia, yang gemar coba-coba, berharap penelitiannya bisa membuktikan bahwa kera pun bisa secerdas mereka. Caesar, kera pertama itu, diajari berkomunikasi oleh tuannya. Ia bukan hanya bisa mengerti manusia, pada akhirnya Caesar juga bisa berbicara.
Namun Caesar yang dahulu dipuja-puja itu, kini menjadi binatang paling diinginkan kematiannya. Prajurit militer menghabiskan berbulan-bulan menjelajahi hutan untuk mencarinya, membuatnya keluar dari tempat persembunyian setelah mengalahkan Koba yang tak bisa mengenyahkan kebenciannya terhadap manusia di Dawn of the Planet of the Apes.
Pasukan pimpinan kolonel yang dimainkan Woody Harrelson yang akhirnya menemukannya.
Mulanya Caesar masih bersikukuh dengan prinsipnya, “Biarkan kami tetap di hutan dan perang akan berakhir.” Ia bahkan membiarkan tentara yang menemukannya tetap hidup demi menyampaikan pesan itu. Namun kolonel membalasnya dengan sesuatu yang menyulut dendam.
Caesar pun membuat perang itu jadi pribadi. Tanpa sadar ia mengorbankan kawanan kera yang dipimpinnya, demi membalaskan dendam pribadi pada sang kolonel. Mata Caesar baru terbuka setelah melihat kawanannya dipaksa kerja rodi tanpa logistik oleh sang kolonel.
Barulah ia sadar, ia tak bisa bertindak seorang diri. “Bersama, kera kuat.”
Film ke-tiga yang masih digarap oleh sutradara Matt Reeves ini menjadi penutup yang apik bagi seri Planet of the Apes. Ia tidak menyuguhkan perang dengan sudut pandang yang biasa: dentuman bom, lontaran peluru, granat, dan kebengisan serta haus akan kekuasaan.
Porsi perang sungguhan di film ini mungkin hanya 20 sampai 25 persen.
Sisanya: humanisme. Atau haruskah disebut: kera-isme?
Reeves sukses menyentuh penonton dengan kelembutan hati yang dimiliki kera maupun manusia. Ia bahkan berusaha menyuguhkan itu sejak awal, saat Caesar melepaskan manusia tawanannya alih-alih membunuhnya. Ia mengulanginya lagi saat membiarkan Maurice, kera besar pengikut Caesar, memilih membawa anak perempuan yang ditemuinya daripada meninggalkannya sendiri.
Reeves membangun adegan demi adegan untuk membuat penonton terhanyut dalam kelembutan yang ingin ditonjolkannya. Mulai kemauan kera-kera untuk bekerja keras demi menyelamatkan Caesar dari todongan senjata, sampai keputusan dilematis si pembelot untuk menyelamatkan kawanannya atau diri sendiri dengan tetap melayani manusia meski disebut ‘keledai.’
Adegan bunga misalnya, yang diberikan Luca kepada bocah cilik bisu yang ditemukan Maurice. Itu bisa dibilang tidak penting dan tidak berkaitan dengan alur utama cerita. Namun Reeves tetap menyuguhkannya sebagai bumbu haru yang sukses menggugah perasaan penonton.
Namun penonton tidak dibiarkan memihak kera begitu saja. Reeves juga memberi sentuhan humanis pada sang kolonel, dengan mengungkap apa historinya memburu para kera.
Ia juga dengan apik memainkan keteguhan Caesar membela teman-temannya, atau saat hatinya terketuk oleh kesetiaan kawanannya, juga ketika ia sedih karena manusia mengambil terlalu banyak darinya. Mata dan ekspresi Serkis menggambarkan kesedihan, kekecewaan, maupun kemarahan yang nyata. Seperti kata kolonel, “Lihat matamu, hampir seperti manusia.”
Serkis sukses memanusiakan Caesar untuk penonton, dan menuntaskan tugasnya di akhir film.
Di luar karakter lama seperti Caesar, Koba, Luca, Rocket, dan Maurice, ada satu pemain baru yang membuat film ini lebih berwarna ketimbang hanya perang penuh air mata. Itu adalah Bad Ape, kera ‘jebolan’ kebun binatang yang juga pintar seperti Caesar.
Selain sebagai kejutan, ia juga penyambung missing link antara perang kera dan manusia. Digambarkan seperti seorang tua, Bad Ape yang diperankan Steve Zahn kerap membuat terpingkal-pingkal lewat pilihan kata-katanya, aksinya, bahkan sekadar ekspresinya.
Zahn pun sukses membuat Bad Ape sebagai karakter yang mencuri perhatian lewat aksi naturalnya, seakan menjadi kera yang baru belajar dengan bahasa Inggris terbata-bata.
Dan di akhir film, ada pesan kuat bahwa sedahsyat apa pun perang, alam tetap menang.
War for the Planet of the Apes dapat disaksikan di bioskop Indonesia mulai 26 Juli 2017. (rsa)
No comments:
Post a Comment